Minggu, 31 Maret 2013

MANAJEMEN KEPERAWATAN


Konsep Manajemen Keperawatan

A.    Konsep Manajemen Keperawatan
Manajemen adalah proses untuk melaksanakan pekerjaan melalui upaya orang lain (Gillies, 1989). Menurut P. Siagian, manajemen berfungsi untuk melakukan semua kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas – batas yang telah ditentukan pada tingkat administrasi. Sedangkan Liang Lie mengatakan bahwa manajemen adalah suatu ilmu dan seni perencanaan, pengarahan, pengorganisasian dan pengontrol dari benda dan manusia untuk mencapai tujuan yang ditentukan sebelumnya. Sedangkan manajemen keperawatan adalah proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui upaya staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga dan masyarakat.
Kita ketahui disini bahwa manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh pengelola keperawatan untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan serta mengawasi sumber-sumber yang ada, baik sumber daya maupun dana sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif baik kepada pasien, keluarga dan masyarakat.

1.Proses Manajemen Keperawatan
Proses manajemen keperawatan sesuai dengan pendekatan sistem terbuka dimana masing-masing komponen saling berhubungan dan berinteraksi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Karena merupakan suatu sistem maka akan terdiri dari lima elemen yaitu input, proses, output, kontrol dan mekanisme umpan balik, yang secara rinci dapat di uraikan  :
1)   Input dari proses manajemen keperawatan antara lain informasi, personel, peralatan dan fasilitas.
2)   Proses dalam manajemen keperawatan adalah kelompok manajer dari tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai ke perawat pelaksana yang mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan.
3)   Output adalah asuhan keperawatan, pengembangan staf dan riset.
4)   Kontrol yang digunakan dalam proses manajemen keperawatan termasuk budget dari bagian keperawatan, evaluasi penampilan kerja perawat, prosedur yang standar dan akreditasi.
5)   Mekanisme timbal balik berupa laporan finansial, audit keperawatan, survey kendali mutu dan penampilan kerja perawat.
Selain itu, dalam proses manajemen keperawatan mencakup langkah-langkah sebagai berikut :
1)   Pengkajian
Pada tahap ini seorang manajer dituntut tidak hanya mengumpulkan informasi tentang keadaan pasien, melainkan juga mengenai institusi (rumah sakit), tenaga keperawatan, administrasi, dan lain sebagainya. Manajer perawat yang efektif harus mampu memanfaatkan proses manajemen dalam rangka pencapaian tujuan asuhan keperawatan.

2)   Perencanaan
Perencanaan dimaksudkan untuk menyusun strategi dalam upaya mencapai tujuan penerapan asuhan keperawatan yang telah ditetapkan
3)   Pelaksanaan
Karena manajemen keperawatan memerlukan kerja melalui orang lain, maka tahap pelaksanaan  dalam proses manajemen adalah bagaimana memimpin staf perawat untuk melaksanakan tindakan keperawatan yang telah direncanakan.
4)   Evaluasi
Tahap akhir dari proses manajerial adalah mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan. Tujuan evaluasi disini adalah untuk menilai seberapa jauh staf perawatan mampu melaksanakan perannya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat dan mendukung dalam pelaksanaannya.
Sebagai contoh kepala ruangan dalam melakukan peran sebagai manajer keperawatan, adalaha sebagai  berikut :
1)   Pengkajian
a)      Mengidentifikasi ratio perawat-pasien
b)      Mengidentifikasi sarana penunjang
c)      Menetapkan metode pemberian asuhan keperawatan yang tepat (misalnya metode Tim)
2)   Perencanaan
a)      Merencanakan jumlah tenaga dan fasilitas yang dibutuhkan
b)      Membentuk tim dan menetapkan ketua timnya
3)   Pelaksanaan
Sebagai penanggung jawab terhadap penerapan asuhan keperawatan profesional, yang dimulai dari timbang terima hingga pelaksanaan tindakan keperawatan.
4)   Evaluasi
Kepala ruangan melakukan evaluasi secara keseluruhan terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.
a)      Menilai kemampuan dan pencapaian ketua tim
b)      Menilai pencapain tujuan asuhan keperawatan yang dilaksanakan oleh perawata pelaksana melalui ketua tim
c)      Memberikan umpan balik terhadap hasil yang dicapainya
d)     Merencanakan tindak lanjut

2. Fungsi-Fungsi Manajemen
Secara ringkas fungsi manajemen adalah sebagai berikut :
1)   Perencanaan (planning)
Perencanaan dimaksud mencakup :
a.    Gambaran apa yang akan dicapai
b.    Persiapan pencapaian tujuan
c.    Rumusan suatu persoalan untuk dicapai
d.   Persiapan tindakan-tindakan
e.    Rumusan tujuan tidak harus tertulis dapat hanya dalam benak saja
f.     Tiap-tiap organisasi perlu perencanaan
2)   Pengorganisasian (organizing), merupakan pengaturan setelah rencana, mengatur dan menentukan apa tugas pekerjaannya, macam, jenis, unit kerja, alat – alat, keuangan dan fasilitas.
3)   Pengendalian/ pengawasan (controlling), merupakan fungsi pengawasan agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan rencana, apakah orang-orangnya, cara dan waktunya tepat. Pengendalian juga berfungsi agar kesalahan dapat segera diperbaiki.
4)   Penilaian (evaluasi), merupakan proses pengukuran dan perbandingan hasil-hasil pekerjaan yang seharusnya dicapai. Hakekat penilaian merupakan fase tertentu setelah selesai kegiatan, sebelum, sebagai korektif dan pengobatan ditujukan pada fungsi organik administrasi dan manajemen.
Adapun unsur yang dikelola sebagai sumber manajemen adalah man, money, material, methode, machine, minute dan market.

3.    Prinsip Manajemen Keperawatan
Prinsip yang mendasari manajemen keperawatan meliputi :
1)        Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan karena melalui fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan keputusan, pemecahan masalah yang efektif dan terencana.
2)        Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
3)        Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan keputusan di berbagai tingkat manajerial.
4)        Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer perawat dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakni dan ingini. Kepuasan pasien merupakan poin utama dari seluruh tujuan keperawatan.
5)        Manajemen keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
6)        Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.
7)        Divisi keperawatan yang baik memotivasi karyawan untuk memperlihatkan penampilan kerja yang baik.
8)        Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian diantara pegawai.
9)        Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat – perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau upaya manajer untuk meningkatkan pengetahuan karyawan.
Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi penilaian tentang pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi dan menetapkan prinsip-prinsip melalui penetapan standar, membandingkan penampilan dengan standar dan memperbaiki kekurangan.
Sedangkan prinsip-prinsip manajemen menurut Fayol adalah :
1)        Division of work (pembagian pekerjaan)
2)        Authority dan responsibility (kewenangan dan tanggung jawab)
3)        Discipline (disiplin)
4)        Unity of command (kesatuan komando)
5)        Unity of direction (kesatuan arah)
6)        Sub ordination of individual to generate interest (kepentingan individu tunduk pada kepentingan umum)
7)        Renumeration of personal (penghasilan pegawai)
8)        Centralization (sentralisasi)
9)        Scalar of hierarchy (jenjang hirarki)
10)    Order (ketertiban)
11)    Stability of tenure of personal (stabilitas jabatan pegawai)
12)    Equity (keadilan)
13)    Inisiative (prakarsa)
14)    Esprit de Corps (kesetiakawanan korps)
Berdasarkan prinsip- prinsip diatas maka para manajer dan administrator seyogyanya bekerja bersama-sama dalam perencanaan dan pengorganisasian serta fungsi-fungsi manajemen lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.


4.    Kerangka Konsep Manajemen Keperawatan.
Manajemen partisipasif yang berlandaskan pada paradigma keperawatan :
1)        Manusia akan tertarik dan terikat pada pekerjaannya.
2)        Jika informasi yang bermanfaat dan layak pada individu akan membuat keputusan terbaik untuk dirinya sendiri.
3)        Tujuan kelompok akan lebih mudah dicapai oleh kelompok.
4)        Setiap individu memiliki karakteristik dan motivasi, minat dan cara untuk mencapai tujuan kelompok.
5)        Fungsi koordinasi dan pengendalian amat penting dalam pencapaian tujuan.
6)        Persamaan kualifikasi harus dipertimbangkan.
7)        Individu memiliki hak dan tanggung jawab untuk mendelegasikan kewenangannya pada mereka yang terbaik dalam organisasi.
8)        Pengetahuan dan keterampilan amat diperlukan dalam pengambilan keputusan yang profesional.
9)        Semua sistem berfungsi untuk mencapai tujuan kelompok dan merupakan tujuan bersama untuk menetapkan tujuan bersama.

5.    Filosofi Manajemen Keperawatan.
1)        Mengerjakan hari ini lebih baik dari hari esok.
2)        Manajer keperawatan merupakan fungsi utama bidang keperawatan.
3)        Peningkatan mutu kinerja perawat.
4)        Pendidikan berkelanjutan.
5)        Proses keperawatan individual menunjang pasien untuk mencapai kesehatan optimal.
6)        Tim keperawatan bertanggung jawab dan bertanggung gugat untuk setiap tindakan keperawatan yang diberikan.
7)        Menghargai pasien dan haknya untuk mendapatkan askep yang bermutu.
8)        Perawat adalah advokat pasien.
9)        Perawat berkewajiban untuk memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga.

6.    Peran Manajemen Keperawatan
Perawat profesional diharapkan menjadi manajer dan leader yang efektif dalam keperawatan.  Hal-hal yang harus dilakukan yang terkait perannya sebagai Manajer Keperawatan adalah kompetensi yang harus dimilikinya agar menjadi seorang leader yang efektif :
1)   Kepemimpinan
a.    Berkomunikasi tentang organisasi, kegiatan organisasi dan pelaksanaan perubahan
b.    Mendelegasikan tugas dan menerima tanggung jawab
c.    Menciptakan budaya organisasi yang kondusif dan efektif
d.   Menerapkan gaya kepemimpinan yang efektif
e.    Melibatkan staf dalam pengembangan organisasi
f.     Fleksibilitas dalam pelaksanaan peraturan
2)   Pengambilan keputusan dan perencanaan
a.    Berpikir ulang dan menyusun kembali prioritas organisasi
b.    Cepat tanggap terhadap perubahan yang tidak diharapkan
c.    Mengantisipasi perencanaan perubahan anggaran
d.   Memberikan pedoman tentang keputusan organisasi
e.    Meninterpretasi perubahan ekonomi staf
3)   Hubungan / Komunikasi
a.    Empati, mendengar dan tanggap pernyataan staf
b.    Menciptakan situasi kondusif dalam komunikasi
c.    Menunjukkan rasa percaya diri melalui kemampuan berkomunikasi
d.   Mengembangkan proses hubungan yang baik dalam organisasi
4)   Anggaran
a.    Mengontrol budget
b.    Menginterpretasi penggunaan anggaran sesuai kebutuhan
c.    Merencanakan anggaran tahunan ( 5 tahun )
d.   Mengkonsultasikan tentang masalah keuangan
5)   Pengembangan
a.    Mengembangkan tim kerja yang efektif
b.    Mengembangkan hubungan profesional antar staf
c.    Memberikan umpan balik yang positif
d.   Menggunakan sistem mpemberian penghargaan yang baik
6)   Personaliti
a.    Mengambil keputusan yang tepat
b.    Mengelola stress individu
c.    Menggunakan koping yang efektif dalam setiap masalah
7)   Negosiasi
a.    Mengidentifikasi dan mengelola konflik
b.    Memfasilitasi perubahan
c.    Melakukan negosiasi dengan baik terhadap staf, kelompok, dan organisasi lain
d.   Mengklarifikasi kejadian yang melibatkan seluruh staf
e.    Menjadi mediator bila terjadi konflik antara staf atau kelompok

7.    Lingkup Manajemen Keperawatan
Mempertahankan kesehatan telah menjadi sebuah industri besar yang melibatkan berbagai aspek upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan kemudian menjadi hak yang paling mendasar bagi semua orang dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai akan membutuhkan upaya perbaikan menyeluruh sistem yang ada. Pelayanan kesehatan yang memadai ditentukan sebagian besar oleh gambaran pelayanan keperawatan yang terdapat didalamnya.
Keperawatan merupakan disiplin praktek klinis. Manajer keperawatan yang efektif seyogyanya memahami hal ini dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana. Kegiatan perawat pelaksana meliputi :
1)        Menetapkan penggunaan proses keperawatan
2)        Melaksanakan intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa
3)        Menerima akuntabilitas kegiatan keperawatan yang dilaksanakan oleh perawat
4)        Menerima akuntabilitas untuk hasil – hasil keperawatan
5)        Mengendalikan lingkungan praktek keperawatan
Seluruh pelaksanaan kegiatan ini senantiasa diinisiasi oleh para manajer keperawatan melalui partisipasi dalam proses manajemen keperawatan dengan melibatkan para perawat pelaksana. Berdasarkan gambaran diatas maka lingkup manajemen keperawatan terdiri dari:
1)   Manajemen operasional
Pelayanan keperawatan di rumah sakit dikelola oleh bidang keperawatan yang terdiri dari tiga tingkatan manajerial, yaitu:
a.    Manajemen puncak
b.    Manajemen menengah
c.    Manajemen bawah
Tidak setiap orang memiliki kedudukan dalam manajemen berhasil dalam kegiatannya. Ada beberapa faktor yang perlu dimiliki oleh orang-orang tersebut agar penatalaksanaannya berhasil. Faktor-faktor tersebut adalah
a.       Kemampuan menerapkan pengetahuan
b.      Ketrampilan kepemimpinan
c.       Kemampuan menjalankan peran sebagai pemimpin
d.      Kemampuan melaksanakan fungsi manajemen
2)   Manajemen asuhan keperawatan
Manajemen asuhan keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang menggunakan konsep-konsep manajemen didalamnya seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atau evaluasi.

8.    Persyaratan Ruangan Menjalankan MPKP
Syarat-syarat Ruangan menjalankan MPKP adalah sebagai berikut:
1)        Memiliki fasilitas perawatan yang memadai.
2)        Memiliki jumlah perawat minimal sejumlah tempat tidur yang ada.
3)        Memiliki perawat pendidikan yang telah terspesialisasi
4)        Seluruh perawat telah memiliki kompetensi dalam perawatan primer.

SELF DISCLOSURE



Usia kepala dua memang seringkali membuat perempuan semakin galau dan bimbang ketika belum punya pasangan. Mungkin diri sendiri sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan. Tetapi tuntutan sosial biasanya sering lebih menekan perasaan. Selalu ada pertanyaan, “Calonmu siapa? Anak mana? Kapan nikah?” pertanyaan yang awalnya sekedar basa-basi itu bisa berubah menjadi hal yang sangat sensitif. Kita bisa saja menjawab “Aku lagi menikmati saat-saat sendiri, masih pengen fokus kuliah, lagi sibuk dengan organisasi, atau pun pekerjaan” itu jawaban klise :)
Punya banyak teman mungkin membuat kita merasa baik-baik saja. Tetapi sebenarnya dalam hati kita juga yakin bahwa suatu saat kita pasti membutuhkan seorang pasangan yang benar-benar ada, mengerti, dan setia untuk kita.
Ketika usia sudah mencukupi, lahir batin siap, dan perasaan udah mantap untuk menjalin hubungan atau menikah, mengapa seseorang belum juga mendapat pasangan? Mungkin perlu kita tahu juga, dalam diri seseorang ada yang dinamakan self disclosure atau kemauan untuk membuka diri. Dengan membuka diri, berarti seseorang mau diketahui informasi tentang dirinya. Kalau seseorang tidak mau menceritakan tentang dirinya, bagaimana orang bisa mengerti dan faham terhadap dirinya? Orang lain tidak akan tahu kalau seseorang tersebut tidak bercerita dan membuka diri, dengan catatan..membuka diri juga harus tau batas-batasnya :) Ceritakan kesukaan kita. Dari sana mungkin orang lain mendapat kesamaan, mulai kesamaan hoby, makanan favorit, hingga pengalaman hidup. Kesamaan itulah yang sering menjadi bahan obrolan menarik antara seorang perempuan dan laki-laki. Dari sana lah orang lain bisa mengetahui diri kita, apa yang menarik dalam diri kita, dan tentu sebaliknya. Alangkah lebih baiknya jika dari hal tersebut diawali dengan niat untuk menambah teman dan menjalin tali silaturahim krn Allah Swt…
Selain masalah self disclosure, kriteria yang terlalu tinggi sering menjadi penyebab seseorang belum juga memiliki pasangan. Kriteria yang terlalu duniawi, seperti tampan atau pun kaya, bisa menjadi sebuah jebakan. Di atas langit selalu ada langit. Ketika melihat seseorang yang tampan atau pun cantik, suatu saat kita pasti melihat yang lebih tampan dan lebih cantik lagi, begitu pun seterusnya. Karena itu kita akan menghabiskan waktu untuk mengharapkan yang paling sempurna. Padahal tidak ada manusia yang sempurna. Tampan/cantik atau kaya bisa saja hilang. Yang paling penting kita melihat kriteria berdasarkan kepribadian, seperti tanggung jawab, ketaatan dalam agama, dan juga kesetiaan…bukan begitu kawan-kawan? :)
Tetap lah berusaha dan yakin, Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita…

HALUSINASI


LAPORAN PENDAHULUAN

I.              KASUS (MASALAH UTAMA)
Halusinasi

II.           PROSES TERJADINYA MASALAH

B.     Definisi
Halusinasi adalah persepsi terhadap stimulus external tanpa adanya rangsangan dari luar. (W. Kusuma, 1997 : 48).
Halusinasi adalah penyerapan tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indra dan terjadi pada keadaan sadar (Dr. Hendro, 2004)

C.     Etiologi
Halusinasi biasanya di sebabkan oleh gangguan mental organik, penggunaan zat halusinasi nogenik, ketidak sambungan endokrin, gangguan efektif, depresi sindrom putus zat dan keracunan obat.
Ada 2 teori menurut Stuart dan Sundeen tentang halusinasi
1.       Teori biokimia
Halusinasi terjadi karena respon metabolisme, terhadap stress yang dapat mengakibatkan lepasnya zat-zat “halusinasi nogenik neurokimia”.
2.       Teori psiko***
Halusinasi merupakan mekanisme pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang mengancam dan muncul dalam alam sadar
Ø  Fase-fase halusinasi
1.       Fase I conforling
Karakteristik
*          Kx mengalami perasaan yang mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan takut.
*          Berfokus pada pikiran yang menyenangkan.
*          Non psikolitik
Prilaku
*          Tersenyum dan tertawa tidak sesuai.
*          Menggerakkan bibir tanpa suara.
*          Pergerakan mata yang cepat.
*          Respon verbal yang lambat jika sedang ashile.
*          Diam dan asyik sendiri.

2.       Fase II condeming
Karakteristik
*          Pengalaman sensor yang menjijikan dan menakutkan
*          Kx mulai lepas dan mungkin mengambil jarak dirinya dengan sumbar yang dipersiapkan.
*          Kx mulai **** mengalami di permalukan dan pengalaman sensor dan menarik diri dari orang lain.
*          Psikotik ringan.
Prilaku
*          Meningkatnya tanda-tanda vital.
*          Ranteng perhatian menyempit.
*          Asyik dengan pengalaman sensor dan kehilangan
*          Kemampuan membedakan halusinasi.

3.       Fase III controling
Karakteristik
*          Kx berhenti melakukan perlawanan terhadap halusinadi dan menyerah pada halusinasi tersebut.
*          Isi halusinasi menjadi menarik.
*          Kx mengalami kesepian jika sensor halusinasi berhasil.
*          psikotik
Prilaku
*          Kemampuan yang dikendalikan halusinasi akan lebih baik.
*          Kesukaran berhubungan dengan orang lain.
*          Rentang perhatiannya beberapa detik/menit.
*          Adanya tanda-tanda, ansietas berat, berkeringat, tremor tidak mempengaruhi peraturan.

4.       Fase IV conguring
Karakteristik
*          Pengalaman sensor menjadi mengancam jika kx mengikuti halusinasi.
*          Halusinasi berakhir dari beberapa jam / hari jika tidak ada intervensi terapeotik.
*          Psiko berat
Prilaku
*          Prilaku terus akibat panik
*          Tidak mampu perespon terhadap perintah yang komplek.
*          Tidak mampu merespon lebih dari satu orang.


III.        A. POHON MASALAH

 









B.     Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
1.       Resiko tinggi kekerasan
DS
:
-   Kx suka marah-marah dan ingin memukul.
-   Kx suka ******
DO
:
Ekspresi wajah tenang, muka merah, tangan meremas-remas sewaktu menceritakan apa yang dialaminya.
2.       Perubahan sensori persepsi halusinasi pendengaran.
DS
:
-   Kx mendengar suara-suara aneh.
-   Kx khawatir dengan suara-suara tersebut.
DO
:
Kx tampak gelisah, cemas.

3.        

IV.        DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.       Resiko tinggi prilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
2.       Perubahan sensori persepsi halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri.
3.        


V.           RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

1.       Resiko tinggi prilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
2.       Tujuan umum
Klien tidak melakukan prilaku kekerasan.
3.       Tujuan khusus
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya.
b.       Klien dapat mengenal halusinasinya.
c.       Klien dapat mengontrol halusinasinya.
d.      Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya.
e.       Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.


























LAPORAN PENDAHULUAN
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan

A.     Proses Keperawatan
1.       Kondisi klien
Biasanya pada klien kx halusinasi kx sering tertawa dan bicara sendiri, kx mengatakan mendengar suara-suara yang menyuruh dan menganggu kx.
2.       Diagnosa keperawatan
Resiko tinggi prilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
3.       Tujuan khusus
Kx dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
4.       Tindakan keperawatan
1.       Sapa kx dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
2.       Perkenalkan diri dengan sopan.
3.       Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang ia sukai.
4.       Jelaskan tujuan pertemuan.
5.       Jujur dan tepati janji.
6.       Tunjukkan sikap empati dan menerima kx ada adanya.
7.       Perhatikan kebutuhan dasar kx.

B.     Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Orientasi
1.       Salam therapeutik
Selamat pagi bapak!, nama saya ..........., saya mahasiwa ........... yang sedang praktek disini. Bolehkah saya berkenalan dengan bapak ? nama bapak siapa ? dan biasanya di panggil apa ?
2.       Evaluasi / validasi
-          Sudah berapa lama bapak berada di sini, dan apa yang bapak rasakan ?
-          Kenapa bapak sampai kesini ?
3.       Kontrak
-        Topik

-        Waktu


-        Tempat
:

:


:
Bagaimana kalau kita membicarakan perasaan bapak hari ini ?
Menurut bapak berapa lama kita berbincang ? bagaimana kalau 10-15 menit saja ? dan jam berapa di laksanakan ? jam ............ ya ?
Menurut bapak kira-kira dimana kita berbincang-bincang ? di ruang makan aja ya ?  

4.       Fasa kerja
1.       sekarang ceritakan pada saya, bagaimana perasaan bapak pada hari ini ?
2.       kenapa bapak punya perasaan seperti itu ?
3.       apakah bapak percaya sama saya ? kenapa bapak di bawa kesini ?
4.       sudah berapa lama bapak berada di sini ?
5.       apakah bapak benci pada keluarga ?
6.       bagaimana perasaan bapak pada saya ?
7.       kalau bapak percaya pada saya, saya juga percaya pada bapak dan akan berusaha membantu bapak.
5.       Terminasi
1.       Evaluasi subyektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang hari ini ?
Saya senang bapak mau mempercayai saya ?
2.       Evaluasi obyektif
Coba bapak sebutkan nama saya ?
Seperti yang bapak ceritakan, hari ini bapak merasa  ........... karena .......... serta alasan bapak masuk rumah sakit karena ..............
3.       Tindak lanjut klien
Kalau nanti bapak ada sesuatu yang dipikirkan, bapak bisa memanggil saya atau perawat lain untuk membatu.
4.       Kontak yang akan datang
Topik
:
Bapak kita bisa bicang-bincang lagi ya ? kita akan berbincang-bincang masalah suara yang bapak sering dengar ?
Waktu
:
Kira-kira jam berapa besok kita berbincang-bincang lagi ? bagaimana kalau jam ........ pagi, mungkin 10-15 menit, besok saya akan kesini menemui bapak ?
Tempat
:
Pak, apakah kita besok bisa berbincang-bincang lagi di tempat ini (ruangan makan) ?


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HEMATEMESIS MELENA (HM)

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HEMATEMESIS MELENA (HM) I. KONSEP DASAR A. Pengertian Hematemesis adalah muntah darah dan melena adalah pengeluaran feses atau tinja yang berwarna hitam seperti teh yang disebabkan oleh adanya perdarahan saluran makan bagian atas. Warna hematemesis tergantung pada lamanya hubungan atau kontak antara darah dengan asam lambung dan besar kecilnya perdarahan, sehingga dapat berwarna seperti kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal. (Sjaifoellah Noer, dkk, 1996) B. Etiologi Hematemesis Melena terjadi bila ada perdarahan di daerah proksimal jejenum dan melena dapat terjadi tersendiri atau bersama-sama dengan hematemesis. Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml, baru dijumpai keadaan melena. Banyaknya darah yang keluar selama hematemesis atau melena sulit dipakai sebagai patokan untuk menduga besar kecilnya perdarahan saluran makan bagian atas. Hematemesis dan melena merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit. (Sjaifoellah Noer, dkk, 1996) Etiologi dari Hematemesis melena adalah : 1. Kelainan esofagus : varise, esofagitis, keganasan. 2. Kelainan lambung dan duodenum: tukak lambung dan duodenum, keganasan dan lain-lain. 3. Penyakit darah: leukemia, DIC (disseminated intravascular coagulation), purpura trombositopenia dan lain-lain. 4. Penyakit sistemik lainnya: uremik, dan lain-lain. 5. Pemakaian obat-obatan yang ulserogenik: golongan salisilat, kortikosteroid, alkohol, dan lain-lain. Penting sekali menentukan penyebab dan tempat asal perdarahan saluran makan bagian atas, karena terdapat perbedaan usaha penanggulangan setiap macam perdarahan saluran makan bagian atas. Penyebab perdarahan saluran makan bagian atas yang terbanyak dijumpai di Indonesia adalah pecahnya varises esofagus dengan rata-rata 45-50 % seluruh perdarahan saluran makan bagian atas (Hilmy 1971: 58 %) C. Patofisiologi D. Gejala Klinis Gejala terjadi akibat perubahan morfologi dan lebih menggambarkan beratnya kerusakan yang terjadi dari pada etiologinya. Didapatkan gejala dan tanda sebagai berikut : 1. Gejala-gejala intestinal yang tidak khas seperti anoreksia, mual, muntah dan diare. 2. Demam, berat badan turun, lekas lelah. 3. Ascites, hidratonaks dan edemo. 4. Ikterus, kadang-kadang urin menjadi lebih tua warnanya atau kecoklatan. 5. Hematomegali, bila telah lanjut hati dapat mengecilkarena fibrosis. Bila secara klinis didapati adanya demam, ikterus dan asites, dimana demam bukan oleh sebab-sebab lain, ditambahkan sirosis dalam keadaan aktif. Hati-hati akan kemungkinan timbulnya prekoma dan koma hepatikum. 6. Kelainan pembuluh darah seperti kolateral-kolateral didinding, koput medusa, wasir dan varises esofagus. 7. Kelainan endokrin yang merupakan tanda dari hiperestrogenisme yaitu: - Impotensi, atrosi testis, ginekomastia, hilangnya rambut axila dan pubis. - Amenore, hiperpigmentasi areola mamae - Spider nevi dan eritema - Hiperpigmentasi 8. Jari tabuh E. Pemeriksaan penunjang 1. Laboratorium a. Darah : Hb menurun / rendah b. SGOT, SGPT yang meningkat merupakan petunjuk kebocoran dari sel yang mengalami kerusakan. c. Albumin, kadar albumin yang merendah merupakan cerminan kemampuan sel hati yang kurang. d. Pemeriksaan CHE (kolineterase) penting dalam menilai kemampuan sel hati. Bila terjadi kerusakan kadar CHE akan turun. e. Pemeriksaan kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretik dan pembatasan garam dalam diet. f. Peninggian kadar gula darah. g. Pemeriksaan marker serologi pertanda ureus seperti HBSAg/HBSAB, HBeAg, dll 2. Radiologi a. USG untuk melihat gambaran pembesaran hati, permukaan splenomegali, acites b. Esofogus untuk melihat perdarahan esofogus c. Angiografi untuk pengukuran vena portal F. Penatalaksanaa 1. Istirahat cukup ditempat tidur 2. Diet rendah protein, rendah garam, diit tinggi kalori 3. Antibiotik 4. Memperbaiki keadaan gizi, bila perlu dengan pemberian asam amino esensial berantai cabang dan glukosa. 5. Robansia vitamin B kompleks II. ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Identitas pasien, meliputi : Nama, Umur (biasanya bisa usia muda maupun tua), Jenis kelamin (bisa laki-laki maupun perempuan), Suku bangsa, Pekerjaan, Pendidikan, Alamat, Tanggal MRS, dan Diagnosa medis 2. Keluhan utama biasanya keluhan utama kx adalah muntah darah atau berak darah yang datang secara tiba-tiba. 3. Riwayat kesehatan a. Riwayat kesehatan sekarang Bagaimana serangan / gejala itu timbul, lokasi, kualitas, dan faktor yang mempengaruhi dan memperberat keluhan sehingga dibawa ke Rumah Sakit. b. Riwayat kesehatan dahulu Biasanya kx mempunyai riwayat penyakit hepatitis kronis, sirosis hepatitis, hepatoma, ulkus peptikum, kanker saluran pencernaan bagian atas, riwayat penyakit darah (misal : DM), riwayat penggunaan obatulserorgenik, kebiasaan / gaya hidup (alkoholisme, gaya hidup / kebiasaan makan). c. Riwayat kesehatan keluarga Biasanya apabila salah satu anggota keluarganya mempunyai kebiasaan makan yang dapat memicu terjadinya hematemesis melena, maka dapat mempengaruhi anggota keluarga yang lain 4. Pola-pola fungsi kesehatan a. Pola perspsi dan tata laksana hidup sehat Biasanya klien mempunyai kebiasaan alkoholisme, pengunaan obat-obat ulserogenik b. Pola nutrisi dan metabolisme Terjadi perubahan karena adanya keluhan pasien berupa mual, muntah, kembung, dan nafsu makan menurun, dan intake nutrisi harus daam bentuk makanan yang lunak yang mudah dicerna c. Pola aktivitas dan latihan Gangguan aktivitas atau kebutuhan istirahat, kekurangan protein (hydroprotein) yang dapat menyebabkan keluhan subjektif pada pasien berupa kelemahan otot dan kelelahan, sehingga aktivitas sehari-hari termasuk pekerjaan harus dibatasi atau harus berhenti bekerja d. Pola eliminasi Pola eliminasi mengalami gangguan,baik BAK maupun BAB. Pda BAB terjadi konstipasi atau diare. Perubahan warna feses menjadi hitam seperti petis, konsistensi pekat. Sedangkan pada BAK, warna gelap dan konsistensi pekat. e. Pola tidur dan istirahat Terjadi perubahan tentang gambaran dirinya seperti badan menjadi kurus, perut membesar karena ascites dan kulit mengering, bersisik agak kehitaman. f. Pola hubungan peran Dengan adanya perawatan yang lama makan akan terjadi hambatan dalam menjalankan perannya seperti semula. g. Pola reproduksi seksual Akan terjadi perbahan karena ketidakseimbangan hormon, androgen dan estrogen, bila terjadi pada lelaki (suami) dapat menyebabkan penurunan libido dan impoten, bila terjadi pada wanita (istri) menyebabkan gangguan pada siklus haid atau dapat terjadi aminore dan hal ini tentu saja mempengaruhi pasien sebagai pasangan suami dan istri. h. Pola penaggulangan stres Biasanya kx dengan koping stres yang baik, maka dapat mengatasi masalahnya namun sebaliknya bagi kx yang tidak bagus kopingnya maka kx dapat destruktif lingkungan sekitarnya. i. Pola tata nilai dan kepercayaan Pada pola ini tidak terjadi gangguan pada klien. 1. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum Keadaan umum klien Hematomesis melena akan terjadi ketidak seimbangan nutrisi akibat anoreksia, intoleran terhadap makanan / tidak dapat mencerna, mual, muntah, kembung. b. Sistem respirasi Akan terjadi sesak, takipnea, pernafasan dangkal, bunyi nafas tambahan hipoksia, ascites. c. Sistem kardiovaskuler Riwayat perikarditis, penyakit jantung reumatik, kanker (malfungsi hati menimbulkan gagal hati), distritnya, bunyi jantung (S3, S4). d. Sistem gastrointestinal. Nyeri tekan abdomen / nyeri kuadran kanan atas, pruritus, neuritus perifer. e. Sistem persyaratan Penurunan kesadaran, perubahan mental, bingung halusinasi, koma, bicara lambat tak jelas. f. Sistem geniturianaria / eliminasi Terjadi flatus, distensi abdomen (hepatomegali, splenomegali. asites), penurunan / tak adanya bising usus, feses warna tanah liat, melena, urin gelap pekat, diare / konstipasi. 2. Analisa Data (menurut Marilyn. E. Doenges, 2000) a. Data I - Data mayor - Data minor : : - Nyeri tekan abdomen - Mual / muntah - Tidak mau makan - Mudah kenyang (ascites) - Anorexia - Penurunan BB - Kemungkinan penyebab : Ketidakmampuan untuk memproses / menerima makanan. - Masalah : Perubahan nutrisi (kurang dari kebutuhan). b. Data II - Data mayor - Data minor : : - Sesak nafas - Takipnea - Pernafasan dangkal - Bunyi nafas tambahan - Hipoksia. - Kemungkinan penyebab : Resiko tinggi terhadap pola pernafasan tidak efektif. - Masalah : Penurunan ekspansi paru c. Data II - Data mayor - Data minor : : - Muntah darah - Berak darah - Diare - Mual/muntah - Hb menurun - Kulit kering - Kemungkian penyebab : out yang berlebihan - Masalah : ketidakseimbangan cairan dan elektrolit B. Diagnosa Keperawatan (Lynda Juall Carpenito) 1. Perubahan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan ketidakmampuan untuk memproses (mencerna) makanan. 2. pola pernafasan tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. 3. Gangguan / ketidakseimbangan cairan dan elektrolit 4. Resiko terjadi shok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan dilambung C. Perencanaan / Intervensi 1. Diagnosa Kep. I : Perubahan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan ketidakmampuan untuk memproses (mencerna) makanan.  Tujuan : intake nutrisi kx terpenuhi dalam waktu 1 x 24 jam  Kriteria Hasil : - Tidak ada nyeri tekan abdomen - Mual / muntah berkurang - BB meningkat - Nafsu makan bertambah  Rencana Tindakan a. Timbang BB Kx setiap hari. R / Sebagai indikator / status nutrisi Kx tercukupi atau belum. b. Erikan HE pada Kx dan keluarga tentang pentingnya makanan / nutrisi bagi diri Kx. R / Kx dapatkooperatif dan mau makan. c. Motivasi Kx agar mau makan. R / Meningkatkan nafsu makan. d. Kolaborasi dengan tim ahli gizi dalam pemberian nutrisi. R / le;aksanakan fungsi independent 2. Diagnosa Kep II : Pola pernafasan tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.  Tujuan : Sesak berkurang dalam waktu 15 menit.  Kriteria Hasil : - Frekuensi pernafasan normal (RR < 25 x/menit). - Tidak terdapat bunyi nafas tambahan. - Kx tidak hipoksia.  Rencana Tindakan a. Observasi TTV klien (terutama RR). R / Mengetahui tk skala sesak Kx. b. Auskultasi bunyi nafas Kx. R / Mengetahui ada tidaknya bunyi nafas tambahan. c. Berikan posisiyang nyaman pada Kx seperti semi fowler. R / Mengurangi rasa nyeri. d. Kolaborasi dengan tim dokter dalam memberikan teraepi obat. R / Melaksanakan fungsi independent. 3. Diagnosa Kep III : Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan out put yang berlebihan.  Tujuan : Ketidak seimbangan cairan elektrolit teratasi dalam waktu 1 x 24 jam.  Kriteria Hasil : - Mual / muntah berkurang. - Px tidak diare. - Hb dalam batas normal (11 gr %).  Rencana Tindakan a. Kaji tingkat kekurangan cairan Kx. R / Mengetahui tk kekurangan cairan / dehidrasi Kx. b. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi / infus. R / Melaksanakan fungsi independent. c. Kaji out put urine dan catat jumlahnya per 24 jam. R / Mengetahu out put Kx (simbang atau tidak). d. Kolaborasi dengan tim medis lain untuk lab. Hb, Hct. R / Melaksanakan fungsi independent. D. Penatalaksanaan Merupakan reaksasi dari rencana tindakan keperawatan. Dalam fase pelaksanaan terdiri dari beberapa kegiatan validasi (penyerahan) rencana keperawatan, menulis dan mendokumentasikan rencana keperawatan, memberi Asuhan Keperawatan dan pengumpulan data (H.Lismidar : 1990) E. Evaluasi Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang disengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien, perawat dan dengan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atai tidak untuk melakukan pengkajian ulang (H. Lismidar : 1990)

DAFTAR PUSTAKA H. M. Syaifoellah Noer. Prof. dr, dkk., Ilmu Penyakit Dalam, FKUI, Jakarta, 1996. Marlyn E. Doenges dkk, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta. 2000. Lynda Juall Carpenito, Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta, 1999.